Jumat, 02 November 2018

Metode Penelitian Deskriptif

Metode penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan, menjelaskan dan memvalidasi fenomena sosial yang menjadi objek penelitian. Metode penelitian deskriptif merupakan penelitian naratif yang digunakan dalam desain riset kualitatif atau kualitatif.
Postingan ini akan membahas secara ringkas tentang metode penelitian deskriptif disertai contohnya. Dengan contoh berupa rumusan masalah yang disebutkan, diharapkan pembaca dapat memahami secara cepat dan tepat tentang apa itu metode penelitian deskriptif.

Pengertian metode penelitian deskriptif

Definisi sederhana yang sering disampaikan adalah metode penelitian yang proses pengumpulan datanya memungkinkan peneliti untuk menghasilkan deskripsi tentang fenomena sosial yang diteliti. Melalui data deskriptif, peneliti mampu mengidentifikasi mengapa, apa dan bagaimana fenomena sosial terjadi.
Sebagaimana yang sudah diungkap diawal, tujuan utama metode penelitian deskriptif ada tiga: mendeskripsikan, menjelaskan, dan memvalidasi temuan penelitian. Peneliti mencapai tujuan tersebut setelah mendeskripsikan karakteristik atau perilaku individu atau kelompok sosial yang diteliti.
Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak mempunyai kontrol terhadap variabel tertentu untuk menjelaskan fenomena sosial. Kontrol terhadap variabel berada di tangan subjek penelitian atau partisipan.
Meskipun metode penelitian deskriptif memungkinkan untuk melibatkan berbagai variabel, hanya satu variabel saja yang bisa digunakan untuk menjelaskan. Misalnya, penelitian tentang motivasi perilaku selfie di Instagram. Peneliti bisa merancang banyak variabel, tapi hanya bisa menggunakan satu saja, yaitu motivasi perilaku selfie.

Apa saja keuntungan dan kerugian penelitian deskriptif?

Keuntungan penelitian deskriptif

  • Metode riset deskriptif mampu menganalisis isu atau topik yang sulit atau tidak bisa diukur secara numerik.
  • Metode riset deskriptif mampu melakukan pengamatan dalam setting sosial yang natural dan apa adanya.
  • Metode riset deskriptif memiliki potensi untuk mengombinasikan penelitian kualitatif dan kuantitatif.

Kekurangan penelitian deskriptif

  • Metode riset deskriptif tidak bisa signifikansi temuan penelitian secara statistik.
  • Metode riset deskriptif rentan terhadap bias karena kental nuansa opini subjektif.
  • Metode riset deskriptif sulit diverifikasi ulang karena sifatnya yang observasional dan kontekstual.
Contoh Metode Penelitian Deskriptif
Dari aspek bagaimana proses pengumpulan data dilakukan, contoh penelitian deskriptifminimal dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu laporan diri atau self-report, studi perkembangan, studi kelanjutan (follow-up study), dan studi sosiometrik.
Contoh Metode Penelitian Deskriptif #1 : Penelitian Laporan Diri (Self-Report Research). Dalam kaitannya dengan data yang dikumpulkan maka penelitian deskriptif mempunyai beberapa macam jenis termasuk di antaranya laporan diri dengan menggunakan observasi. Dalam penelitian self-report, informasi dikumpulkan oleh orang tersebut yang juga berfungsi sebagai peneliti.
Dalam penelitian self-report ini peneliti dianjurkan menggunakan teknik observasi secara langsung, yaitu individu yang diteliti dikunjungi dan dilihat kegiatannya dalam situasi yang alami. Tujuan observasi langsung adalah untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Dalam penelitian self-report, peneliti juga dianjurkan menggunakan alat bantu lain untuk memperoleh data, termasuk misalnya dengan menggunakan perlengkapan lain seperti catatan, kamera, dan rekaman. Alat-alat tersebut digunakan terutama untuk memaksimalkan ketika mereka harus menjaring data dari lapangan. Contoh Penelitian Deskriptif Menggunakan Self-Report. Studi Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah. Studi banding tentang Kelembagaan dan Sistem Pembiayaan Usaha Kecil dan Menengah ini mempunyai 5 tujuan penting, yaitu :
1.  Mengidentifikasi faktor-faktor pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah melalui sistem kelembagaan.
2. Memperoleh informasi tentang faktor-faktor pengembangan kelembagaan bagi koperasi usaha kecil dan menengah.
3. Meningkatkan kerja sama lembaga pemerintah agar secara komprehensif mempunyai sistem pembiayaan yang relevan dengan kebutuhan para pengusaha.
4.  Merumuskan kebijakan, implementasi, dan sistem monitoring yang relevan dengan kelembagaan dan sistem pembiayaan usaha kecil dan menengah.
5.  Memperoleh model best practice tentang kelembagaan dan sistem pembiayaan di negara Filipina yang mungkin dapat diterapkan sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.
Penelitian studi banding ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan self-report. Tempat penelitian adalah lembaga tinggi departemen Perdagangan dan Industri dan lembaga lain yang menangani pertumbuhan dan perkembangan usaha kecil dan menengah. Lembaga-lembaga lain tersebut termasuk Kantor Biro Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (BSMD), Kantor Technology Livelihood Resource Center (TLRC), Colombo Plan Staff College (CPSC), dan Technology University of Philippines (TUP). Subjek penelitiannya adalah narasumber yang memiliki informasi yang diperlukan dan mereka yang berhasrat dan bersedia bekerja sama dalam memberikan informasi. Studi banding ini mempunyai hasil yang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu lembaga pengelolaan dan sistem pembiayaan usaha kecil dan menengah. Yang berkaitan dengan Lembaga Pengelola UKM di antaranya adalah termasuk:
Pengembangan usaha kecil dan menengah di Filipina di bawah Department of Trade and Industry (DTI), dengan melibatkan beberapa biro yang ada di tingkat nasional dan regional. Yang termasuk pengusaha kecil dan menengah di Filipina, adalah para pengusaha atau entrepreneur, baik individual maupun kelompok warga negara Filipina yang memiliki ciri-ciri seperti berikut: pengusaha mikro mempunyai aset < P 1,500,001; pengusaha kecil mempunyai aset P 1,500,001 - P 15,000,000; dan pengusaha menengah mempunyai P 15,000,001- P 60,000,000.
Ada enam lembaga tinggi negara dan beberapa kantor yang relevan dengan macam-macam kegiatan bisnis sebagai tempat pendaftaran dan yang akan
Program pemerintah yang terkait dengan usaha kecil dan menengah dilaksanakan oleh semua lembaga yang relevan termasuk kantor yang berada di bawah tanggung jawab departemen perdagangan dan industri, departemen keuangan, anggaran dan manajemen, pertanian, reformasi agraria, lingkungan dan sumber daya alam, tenaga kerja dan perburuhan, transportasi dan komunikasi, pekerjaan publik dan jalan raya, pemerintah daerah dan ekonomi nasional dan otoritas pengembangan dan semua Bank Central Filipina baik tingkat nasional, regional, dan provinsi.
Contoh Metode Penelitian Deskriptif #2 : Studi Perkembangan (Developmental Study). Studi perkembangan atau developmental study banyak dilakukan oleh peneliti di bidang pendidikan atau bidang psikologi yang berkaitan dengan tingkah laku. Sasaran penelitian perkembangan pada umumnya menyangkut variabel tingkah laku secara individual maupun dalam kelompok. Dalam penelitian perkembangan tersebut peneliti tertarik dengan variabel yang utamanya membedakan antara tingkat umur, pertumbuhan atau kedewasaan subjek yang diteliti. Studi perkembangan biasanya dilakukan dalam periode longitudinal dengan waktu tertentu, bertujuan guna menemukan perkembangan dimensi yang terjadi pada seorang responden. Dimensi yang sering menjadi perhatian peneliti ini, (CPSC), misalnya: intelektual, fisik, emosi, reaksi terhadap perlakuan tertentu, dan a adalah perkembangan sosial anak. Studi perkembangan ini bisa dilakukan baik secara berhasrat cross-sectional atau longitudinal. Jika penelitian dilakukan dengan model cross-sectional, peneliti pada waktu yang sama dan simultan menggunakan berbagai tingkatan variabel untuk diselidiki. Data yang diperoleh dari masing-masing tingkat dapat dideskripsi dan kemudian dikomparasi atau dicari tingkat asosiasinya. Dalam penelitian perkembangan model longitudinal, peneliti menggunakan responden sebagai sampel tertentu, misalnya: satu kelas dalam satu sekolah, kemudian dicermati secara intensif perkem¬bangannya secara kontinu dalam jangka waktu tertentu seperti 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Semua fenomena yang muncul didokumentasi untuk digunakan sebagai informasi dalam menganalisis guna mencapai hasil penelitian. 
Contoh Metode Penelitian Deskriptif #3 : Studi Kelanjutan (Follow-up Study). Studi kelanjutan dilakukan oleh peneliti untuk menentukan status responden setelah beberapa periode waktu tertentu memperoleh perlakuan, misalnya program pendidikan. Studi kelanjutan ini dilakukan untuk melakukan evaluasi internal maupun evaluasi eksternal, setelah subjek atau responden menerima program di suatu lembaga pendidikan. Sebagai contohnya, Badan Akreditasi Nasional menganjurkan adanya informasi tingkat serapan alumni dalam memasuki dunia kerja, setelah mereka selesai program pendidikannya. Dalam penelitian studi kelanjutan biasanya peneliti mengenal istilah antara output dan outcome. Output (keluaran) berkaitan dengan informasi hasil akhir setelah suatu program yang diberikan kepada subjek sasaran diselesaikan. Sedangkan yang dimaksud dengan data yang diambil dari outcome (hasil) biasanya menyangkut pengaruh suatu perlakuan, misalnya program pendidikan kepada subjek yang diteliti setelah mereka kembali ke tempat asal yaitu masyarakat.
Contoh Metode Penelitian Deskriptif #4 : Studi Sosiometrik (Sociometric Study)
Yang dimaksud dengan sosiometrik adalah analisis hubungan antar-pribadi dalam suatu kelompok individu. Melalui analisis pilihan individu atas dasar idola atau penolakan seseorang terhadap orang lain dalam satu kelompok dapat ditentukan.
Prinsip teori studi sosiometrik pada dasarnya adalah menanyakan pada masing¬-masing anggota kelompok yang diteliti untuk menentukan dengan siapa dia paling suka, untuk bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Pada kasus ini, dia dapat memilih 1 atau 3 orang dalam kelompoknya. Dari setiap anggota, peneliti akan memperoleh jawaban yang bervariasi. Dengan menggunakan gambar sosiogram, posisi seseorang akan dapat diterangkan kedudukannya dalam kelompok organisasi.
Dalam sosiogram tersebut pada umumnya digunakan beberapa batasan istilah yang dapat menunjukkan posisi individu dalam kelompoknya. Beberapa istilah tersebut seperti misalnya:
"bintang" diberikan kepada mereka yang paling banyak dipilih oleh para anggotanya,
"terisolasi" diberikan kepada mereka yang tidak banyak dipilih oleh para anggota dalam kelompok,
"klik" diberikan kepada kelompok kecil anggota yang saling memilih masing orang dalam kelompoknya.
Di bidang pendidikan, sosiometrik telah banyak digunakan untuk menentukan hubungan variabel status seseorang misalnya pemimpin formal, pemimpin dalam lembaga pendidikan atau posisi seseorang dalam kelompoknya dengan variabel lain dalam kegiatan pendidikan.

 Referensi :
http://sosiologis.com/metode-penelitian-deskriptif
http://adityaleksmana14.blogspot.com/2013/04/penjelasan-metode-penelitian-deskriptif.html

Maryati Latukau (1B117113)
Jamila Larasati ( 1B117072)

Selasa, 30 Oktober 2018

Tugas 2 Ilmu Sosial Dasar


  

Bagaimana SariWangi bisa Bangkrut?

PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (SAEA) telah dinyatakan pailit setelah Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan pembatalan perjanjian perdamaian oleh PT Bank ICBC Indonesia. Anak usaha Sariwangi Group PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung juga ikut dijatuhkan pailit.

Lalu mengapa perusahaan teh yang sudah berdiri sejak 1973 ini bisa pailit?

Direktur Eksekutif Dewan Teh Indonesia (DTI) Suharyo Husen mengaku cukup mengenal dengan keluarga pemilik perusahaan tersebut. Menurutnya kondisi perusahaan mulai menurun ketika merek Sariwangi dibeli oleh Unilever. Meskipun dia mengaku tidak mengetahui secara detil.

"Sebelumnya mulai menurun yaitu pada saat dibeli Unilever. Waktu itu masih Pak Alex (Johan Alexander Supit) yang pegang. Jadi mereka kerja sama produksi tapi kan mereknya dijual," tuturnya kepada detikFinance, Kamis (18/10/2018).

Unilever sendiri hanya membeli merek Sariwangi bukan perusahaannya pada 1989. Meski sebagai pemegang merek Sariwangi, Unilever masih mengambil pasokan dari SAEA.

"Jadi produk-produk Sariwangi yang ada di toko-toko itu sudah punya Unilever," tuturnya.

Semenjak saat itu, SAEA hanya menjual teh dalam bentuk bahan baku. Namun menurut Suharyo kinerja perusahaan mulai menurun.
Setelah Johan Alexander Supit meninggal pada 21 November 2015, kursi pucuk pimpinan diteruskan oleh anaknya Andrew Supit. Namun posisi tersebut tak lama diduduki oleh Andrew.

Kepada detikFinance, Andrew mengatakan sudah tak lagi menjadi Direktur Utama PT Sariwangi sejak 30 Oktober 2015. Perusahaan tersebut tersebut diambil alih oleh pihak asing.

"Saya sudah tidak menjadi Direktur Utama PT SARIWANGI A.E.A. sejak 30 Oktober 2015 semenjak perusahaan diambil alih oleh perusahaan asing di mana perusahaan asing tersebut menjadi pemilik PT Sariwangi A.E.A. dengan menguasai 70% saham perusahaan," katanya.

Sekedar informasi, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyatakan kedua perusahaan itu pailit karena dianggap telah melanggar perjanjian perdamaian soal utang piutang dengan PT Bank ICBC Indonesia.

Setelah tagihan kredit utang bermasalah Bank ICBC Indonesia sepakat dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Total utang Sariwangi kepada Bank ICBC Indonesia saat itu mencapai US$ 20.505.166 atau sekitar Rp 309,6 miliar.

Namun sejak perjanjian itu pihak Sariwangi tidak memenuhi perjanjian dengan membayar cicilan utang. Hingga akhirnya PT Bank ICBC Indonesia mengajukan pembatalan perjanjian perdamaian

Berbarengan dengan Sariwangi, Bank ICBC Indonesia juga meminta pembatalan perjanjian perdamaian kepada PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung. Total utang perusahaan ini mencapai $2.017.595 dan Rp. 4.907.082.191.
  
Apa Hubungan SariWangi dengan Unilever?

PT Unilever Indonesia Tbk. menyatakan tidak memiliki hubungan bisnis dengan PT Sariwangi Agricultural Estate Agency (AEA).

Teh celup SariWangi dimiliki oleh PT Unilever Indonesia Tbk. Bisnis teh SariWangi saat ini terus bertumbuh dan tetap diproduksi.
Adapun yang disebutkan pailit dalam pemberitaan di media masa adalah PT Sariwangi AEA. Perusahaan tersebut bukan merupakan bagian ataupun anak perusahaan dari PT Unilever Indonesia Tbk.
PT Sariwangi AEA memang pernah menjadi rekanan usaha Unilever untuk memproduksi teh celup SariWangi, namun hubungan bisnis tersebut telah berakhir. Dengan demikian, pailitnya perusahaan tersebut tidak ada dampak apapun terhadap Unilever dan teh celup SariWangi.
Selama 45 tahun teh Sariwangi telah hadir menghangatkan kebersamaan masyarakat Indonesia dan berkomitmen untuk selalu hadir ditengah keluarga Indonesia.






Referensi :
https://finance.detik.com/industri/d-4262474/kenapa-sariwangi-bisa-pailit
https://www.unilever.co.id/penjelasan-resmi-perihal-sariwangi.html

Senin, 29 Oktober 2018

Tugas Inovasi SI 2.1

2.1 Sebutkan & Jelaskan layanan strategis apa agar SI modern dapat berkembang cepat?
Contoh layanan SI Modern yang dapat berkembang pesat dalam Pembayaran Digital
Pembayaran Digital: Perkembangan Transaksi Pembayaran Elektronik di Indonesia
Pesatnya perkembangan teknologi memberikan dampak kepada manusia. Berbagai kemudahan menjadi sebuah hasil dari inovasi yang terus menerus. Salah satu yang begitu berkembang adalah internet dan E-Commerce. Abad digital menjadi sebuah dunia baru bagi generasi sekarang. Berkembangnya E-Commerce, memberikan banyak kemudahan dalam melakukan transaksi. Hal ini juga berdampak pada transaksi pembayaran. Transaksi pembayaran yang mudah mengarah kepada penggunaan Kartu Kredit. Namun penetrasi kartu kredit di Indonesia sendiri tidak semasif di negara-negara lain. Produk tabungan sendiri pun, seperti kartu Debit/ATM walaupun sudah menjadi alat bantu pembayaran namun masih belum merata di seluruh pulau Indonesia. Namun kemudian mulai bergeser menjadi mekanisme pembayaran elektronik.
Perputaran uang secara elektornik saat ini sudah meningkat. Pembayaran non tunai, menjadi sebuah tren dan solusi perbankan. Produk terkait dikeluarkan/diterbitkan baik oleh institusi perbankan maupun non perbankan. Bentuk awal uang eletronik adalah kartu non tabungan bukan kartu ATM atau Kartu Kredit. Dimana pemegang kartu dapat menggunakan kartu tersebut tanpa membuka rekening pada Bank yang mengeluarkan kartu terkait. Kemudahan inilah yang menjadi salah satu keuntungan dalam penggunaan uang elektronik.Perkembangan sistem dan teknologi informasi membawa kita keberbagai macan solusi yang saat ini menjadi awam bagi khalayak ramai. Aplikasi yang menawarkan suatu solusi/kemudahan menyedot perhatian pengguna. Dengan jumlah pengguna yang cukup besar, perputaran uang juga menjadi semakin banyak. Hal ini tidak hanya berdampak pada perbankan, namun juga non perbankan ikut serta dalam pangsa pasar uang non tunai ini. 



Sumber :
https://farizhabib.wordpress.com/2017/07/20/pembayaran-digital-perkembangan-transaksi-pembayaran-elektronik-di-indonesia/ 
http://jamilalarasati12.blogspot.com/  https://naufalakmalfauzi.wordpress.com/2016/10/10/inovasi-sistem-informasi-teknologi-informasi-modern/http://12112682.blogspot.com/2017/01/ciri-inovasi-macam-inovasi-dan-contoh.html 

LEMBAGA-LEMBAGA AUDIT SISTEM INFORMASI DI INDONESIA

  • BPK RI
BPK RI didirikan tahun 1946 yang bertugas untuk melakukan audit yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara dan tanggung jawab yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara lain seperti Bank Indonesia, BUMN, BUMD, Dewan Pelayanan Publik, dan lembaga lain yang mengelola keuangan negara. BPK RI menyerahkan hasil audit kepada DPR, DPD, dan DPRD sesua dengan kewnangan masing-masing.
  • Keuangan BPKP (Badan Pengawasan dan Pembangunan)
BPKP didirikan tahun 2006. BPKP bertugas mengendalikan keuangan dan pengawasan pembangunan nasional serta meningkatkan pendapatan negara dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengeluaran anggaran pemerintah nasional dan regional. Tugas lain BPKP adalah mengevaluasi penerapan sistem pengendalian internal untuk mendeteksi dan menghalangi korupsi, serta menginvestigasi penyelewengan keuangan.
  • LPAI
LPÄI Lembaga Pengembangan Auditor Internal adalah lembaga yang concern terhadap pengembangan SDM bidang audit internal. Sebagai salah satu divisi training dari Proesdeem Indonesia lembaga konsultan manajemen yang sejak 1995 memfokuskan kegiatannya pada pelatihan manajemen — LPÄI menyelenggarakan pelatihan internal audit dan fraud audit secara lengkap, terprogram-berkesinambungan, serta kurikulum berkualitas. Pelatihan yang diselenggarakan oleh LPAI senantiasa dievaluasi dan diupdate — mengacu pada perkembangan pengetahuan dan praktek bisnis paling mutakhir — dimana benchmarknya adalah lembaga-lembaga internal audit dan fraud audit yang sudah dikenal baik reputasinya di dunia.
Selain itu program pelatihan yang diselenggarakan oleh LPAI didukung oleh tenaga instruktur berpengalaman, baik sebagai instruktur maupun sebagai auditor ataupun praktisi manajemen lainnya serta memiliki background pendidikan S2 dan Ph.D. dari dalam dan luar negeri. Sebagian besar instruktur LPAI adalah praktisi audit yang memiliki sertifikat keahlian atau profesi seperti CIA, CFE, CISA, dan sebagainya.


Referensi:
https://dwianita96.wordpress.com/2017/10/13/lembaga-lembaga-audit-sistem-informasi-di-indonesia/

Tugas 3 : Standar dan Panduan Untuk audit Sistem Informasi seperti ISACA, IIA COSO dan ISO1799

ISACA(Information Systems Audit & Control Association) :
 ISACA berperan memberikan informasi untuk mendukung kebutuhan pengetahuan. Dalam framewok ISACA terdapat Standard, Guidelines, dan Procedure.
-  Standard yang ditetapkan oleh ISACA harus diikuti auditor.
-  Guidelines memberi bantuan kepada auditor agar dapat menerapkan standar dalam berbagai tugas audit.
-  Prosedur memberi contoh langkah-langkah auditor dapat  mengikuti tugas audit sehingga dapat menerapkan standar.


IIA COSO(The Comitte of Sponsoring Organizations of the threadway commision's) :
pengendalian intern, yang penggunaannya mencakup penentuan tujuan pengendalian pelaporan keuangan dan proses operasional dalam konteks organisasional, sehingga perbaikan dan kontrol dapat dilakukan secara menyeluruh.


ISO 1799 :
menghadirkan sebuah standar untuk sistem manajemen keamanan informasi yang meliputi dokumen kebijakan keamanan informasi, alokasi keamanan informasi tanggung jawab menyediakan semua pemakai dengan pendidikan dan pelatihan di dalam keamanan informasi, mengembangkan suatu sistem untuk laporan peristiwa keamanan, memperkenalkan virus kendali, mengembangkan suatu rencana kesinambungan bisnis, mengikuti kebutuhan untuk pelindungan data, dan menetapkan prosedur untuk mentaati kebijakan keamanan.


referensi :  
http://dokumen.tips/documents/sejarah-isaca.html
https://mukhsonrofi.wordpress.com/2008/10/23/cisa-gelar-it-auditor-bernilai-jual-tinggi/
 1-Konsep%20Audit%20Sistem%20Informasi.pdf
http://gondronggunadarma.blogspot.com/2017/10/standar-dan-panduan-untuk-audit-sistem.html

Analisis Risiko


Tugas 2 : Pengertian Analisis Resiko dan Cara Mengatasi Resiko

Analisa resiko adalah bagian dari proses audit untuk menganalisa jenis resiko dan kerentanan, manfaatnya ialah agar auditor dapat mengambil langkah langkah untuk meminimalisasi resiko yang ada.
Cara-cara untuk mengatasi resiko ialah:
  1. Avoid Risk , dengan melakukan terminasi resiko, awalnya ketika resiko sudah di ukur, maka kemudian dilakukan pengaturan aktifitas yang akan memicu resiko tersebut. Misalnya saja penggunaan laptop karyawan bank yang disediakan semua dari pihak bank dimana mereka bekerja untuk menghindari adalnya malware, infeksi virus, tojan ataupun pencurian data data mereka.
  2. Reduce Risk  dengan meminimalkan kemungkinan terjadinya resiko, caranya adalah dengan menambahkan kontrol tambahan, contohnya adalah pemasangan perangkat firewall untuk mengurangi resiko adanya penyerangan baik dari attacker maupun dari virus.
  3. Accept Risk adalah menerima resiko yang ada dengan mempersiapkan management penanganannya. Contohnya ialah dengan mempersiapkan DRC ( Disaster Recovery Center) untuk menghindari dari adanya gempa bumi di server utama.
  4. Transfer Risk adalah meletakkan resiko pada pihak ketiga, Contohnya ialah dengan memakai jasa asuransi kebakaran.


Daftar Pustaka
http://edysusanto.com/risk-analysis/ (tanggal akses 30 Oktober 2017)
https://excitedblog.wordpress.com/2017/11/01/pengertian-analisis-resiko-dan-cara-mengatasi-resiko/

Minggu, 21 Oktober 2018

Jenis-Jenis Audit

Tugas 1

Jenis-Jenis Audit


a. Audit Operasional atau Management Audit
Tujuan audit ini adalah untuk mencari tahu apakah kegiatan operasional yang dilakukan dalam sebuah perusahaan sudah berjalan dengan efisien dan efektif atau belum. Kegiatan operasional lain yang di audit oleh audit operasional ini adalah kebijakan akuntansi.

b. Audit Ketaatan atau Compliance Audit
Tujuan dari audit ini adalah untuk mencari tahu apakah perusahaan/organisasi sudah menaati peraturan yang berlaku atau belum. Peraturan ini bisa menyangkut peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan/organisasi itu sendiri ataupun peraturan, ketetapan, atau kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah.

c. Audit Laporan Keuangan atau Financal Statement Audit
Tujuan audit ini adalah untuk mencari tahu apakah laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan sudah sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku secara umum atau belum. Audit ini dilakukan dengan cara mengumpulkan dan melakukan evaluasi terhadap laporan keuangan yang ada.

d. Audit Sistem Informasi
Audit sistem informasi dilakukan oleh KAP atau Kantor Akuntan Pusat  yang hanya dilakukan kepada perusahaan yang data akuntansinya diproses menggunakan System Elektronik Data Processing (EDP).

e. Audit Forensik
Tujuan dari diadakannya audit forensik adalah untuk mencegah kecurangan (fraud) yang mungkin terjadi. Audit forensik biasanya juga melakukan investigasi kriminal, mencari tahu kerugian dari suatu bisnis dan mencari tahu indikasi kecurangan saat berbisnis atau karyawan.


f. Audit Investigasi
Audit ini biasa dilakukan jika disatu perusahaan terindikasi sebuah penyimpangan yang karenanya dapat merugikan keuangan pihak lain. Audit investigasi adalah audit yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengintifikasi (identify), menguji (examine), dan juga mengenali (recorganized) fakta dan informasi untuk mencari pembuktian atas kejadian yang sebenarnya terjadi.

g. Audit Lingkungan
Keputusan Menteri LH 42 tahun 1994 menerangkan bahwa audit lingkungan merupakan proses manajemen yang didalamnya menyangkut evaluasi secara tercatat, obyektif, dan sistematik tentang bagaimana sebuah kinerja manajemen perusahaan atau organisasi lainnya yang memiliki tujuan untuk memberikan fasilitas kendali manajemen dalam upaya mengendalikan dampak lingkungan serta pemanfaatan peraturan UU pengelolaan lingkungan.


Audit yang ditinjau berdasarkan auditor atau kelompok pelaksana audit ini terbagi menjadi tiga macam. Mereka adalah:

a. Auditor Eksternal
Auditor eksternal adalah auditor yang bekerja untuk kantor/lembaga akuntan publik yang merupakan pihak ke-3 dimana status mereka berada di luar lembaga atau perusahaan yang mereka audit. Auditor eksternal bekerja secara obyektif dan bersifat independent.

b. Auditor Internal
Auditor internal adalah auditor yang bekerja untuk perusahaan dimana mereka bekerja. Mereka bertugas untuk mengawasi asset atau Saveguard of Asset dan mengawasi aktifitas sehari-hari operasional perusahaan mereka.

c. Auditor Pajak
Di Indonesia, auditor pajak biasanya dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Pajak atau DJP yang tugasnya adalah melakukan ketaatan wajib pajak sesuai undang-undang yang berlaku.

d. Auditor Pemerintah
Auditor pemerintah adalah auditor yang memiliki tugas untuk menilai kewajaran sebuah informasi laporan keuangan instansi pemerintahan terhadap pelaksanaan program dan juga penggunaan aset yang dimiliki pemerintah.

Itulah beberapa pengertian, tujuan serta jenis-jenis audit yang dapat menambah wawasan anda didalam memahami audit. Semoga artikel ini membantu.


Sumber:
https://dosenakuntansi.com/pengertian-dan-jenis-jenis-audit